Kerja bakti dan Jihad

02 Okt 2017 oleh Admin

Kerja Bakti dan Jihad

Di masjid Ar Riyadh Hidayatullah Balikpapan, setiap hari Ahad setelah shalat subuh berjamaah dan pembelajaran MBA atau terjemahan Al Qur'an, kepala kampus Ust Syamsul Maarif mengumumkan formasi kerja bakti. Ini adalah salah satu tradisi puluhan tahun atau sejak awal berdirinya Hidayatullah.

" Formasi kerja bakti pagi ini, seluruh mahasiswa mengecor lantai paling atas masjid bersama tukang. Bapak-bapak warga dan santri Mts, Aliyah bergabung untuk bekerja di lokasi halaqah nya masing-masing." Kata kepala kampus singkat padat dan keterangan sedikit untuk memperjelas formasi.

Setelah pengumuman, semua jamaah dan santri berhalaqah besar atau gabungan sebanyak 20 halaqah. Untuk melakukan koordinasi, motivasi dan silaturahim antara warga dan santri.

Setelah selesai berhalaqah, sebagian shalat isyro' dan shalat Dhuha. Santri pulang ke asrama untuk sarapan pagi dan bapak bapak warga juga pulang ke rumahnya masing-masing.

Sekitar jam 07.30 langit sedikit berawan,  para santri bergerak dari asrama berjalan kaki dengan pakaian kerja dan bapak bapak naik motor menuju tempat kerja baktinya masing-masing. Mereka ada yang membawa parang, arit, cangkul, mesin rintis dan sapu lidi.

Suasana kerja bakti yang penuh dengan rasa kebersamaan, keceriaan, keakraban di wajah wajah mereka. Ada tawa dan senyum menyertai kerjanya.

Jika ada santri atau warga tidak ikut, maka akan muncul perasaan tidak enak atau rasa bersalah sepanjang hari. Malu, minder kalau tidak turun kerja bakti.

Di setiap sudut kampus ada yang kerja bakti, karena kampus sudah dibagi menjadi 20 wilayah sesuai dengan jumlah 20 halaqah. Ada yang menyapu jalanan, mencabut rumput di taman taman, merintis rumpus, membersihkan parit.

Ada pembicaraan menarik di halaqah 20 yang para santri dan bapak bapak nya harus bekerja keras membersihkan pohon pohon liar dan rumput tinggi dengan parang dan arit di jalan perbatasan kampus sebelah Utara.

"Beratnya perang pada zaman dulu ya" Kata Dullah

"Iyalah, namanya perang itu berat. Memang nya kenapa koq tiba-tiba bicara perang?" Tanya Ihsan

"Kita ini hanya perang dengan

 rumput dan pohon yang kalau kita tebas tidak melawan  dan waktunya sekitar 2 hingga tiga jam, itupun banyak istirahat nya" kata Dullah sedikit menjelaskan sambil terus membabat rumput liar dipinggir parit.

" Terus maksudnya gmn?" Tanya Ihsan penasaran

"Coba bayangkan, gimana suasana perang yang digambarkan ustadz Rohim atau ustadz Lukman saat menceritakan pelajaran Sirah di masjid bada Maghrib.  Rasulullah dan para sahabat memerangi kaum kuffar. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan, bekal terbatas, perjalanan jauh, siang malam mengayunkan pedangnya dan perlawanan orang kuffar juga kuat." Kali ini Dullah menjelaskan sambil memandang jauh ke depan.

"Subhanallah, iya..ya berat nya perang atau jihad itu. Sementara kerja bakti kita ini, mengayunkan parang beberapa kali sudah pegal-pegal tangan, sebentar istirahat dan ngobrol, habis itu masih disediakan makan gorengan, roti gepeng dan air minum" Kata Ihsan sambil garuk-garuk kepala.

" Makanya pantas, orang yg syahid atau mati saat perang itu diganjar surga, jasad nya tidak perlu dikafani, dimandikan dan disholatkan, saking istimewanya" Kata Ahmad ikut menimpali yang diam diam mendengarkan diskusi di tengah kerja bakti.

"Jadi malu ini kerja bakti tiap pekan tapi kurang maksimal, apalagi tidak membawa senjata"

" Dan perbaiki niat, anggap saja ini bagian persiapan jihad, rumput dan pohon liar itu anggap orang kuffar yang harus dipotong lehernya" Kata Dullah

" Ayo babat terus rumput dan pohon liar ini dengan semangat" Kata Ihsan teriak ke teman temannya.

Akhirnya kerja bakti diakhiri dengan tausyiah murobi dan menyantap gorengan yang dihambar di atas daun pisang.

Catatan di bumi Gunung Tembak.

 

 

 

Keterpanggilan

03 Okt 2017

Card image cap