Ketika Istri Sakit

31 Jul 2017 oleh Admin

Pasangan Sakit : Pembuktian Cinta

 

Di pintu gerbang masjid, ada seorang bapak-bapak agak lanjut usianya sangat sibuk, cemas dan sangat berharap bertanya kepada setiap jamaah yang baru keluar dari masjid.

“Mas, golongan darahnya apa?

“Pak, tolong bisa donor darah?

Ada sebagaian jamaah yang mau tapi ada juga yang cuek, tapi ibu itu tidak berhenti untuk terus mencari orang yang bisa donor darah. Subhanallah

Ternyata dia sedang mencari orang untuk bisa donor darah karena persediaan darah di rumah sakit habis. Istrinya  sakit kritis yang memerlukan darah.

Tidak mudah mencari dari AB, sehingga ibu itu rela untuk berdiri, bertanya dan mencari orang-orang untuk donor darah bagi suaminya.

Sakit Bagian dari Ujian Kesetiaan

Dalam kehidupan berkeluarga, ketika istri sakit ternyata memberikan banyak pelajaran yang berharga bagi suami tentang jasa dan peran seorang wanita.   Hal ini sangat berbeda ketika yang sakit adalah suami,  semua terlayani dengan baik dengan kesetiaan dan kasih sayang istri yang merawatnya.

Ketika istri sakit maka suami harus bersiap untuk menjadi manusia super sibuk. Dia harus menyiapkan segala kebutuhan dan mengerjakan seluruh pekerjaan rutin harian di rumahnya. Mulai masak, mencuci, menyapu, mengepel, memandikan anak-anak, menyiapkan bajunya, menemani belajar anak dan mengantar ke sekolah. Ditambah dengan melihat kondisi istri yang terbaring lemah dan senantiasa meminta untuk ditemani.

Banyak suami yang tidak mampu mengemban pekerjaan-pekerjaan rumah saat istri sakit. Terbukti ketika istri sakit maka rumah berubah menjadi seperti kapal  pecah, kondisi rumah berantakan, barang-barang berhamburan, anak-anak tidak terawat makan dan mandinya, apalagi belajarnya. Terlihat jelas wajah panik dan kelelahannya.

Sehingga tidak jarang suami harus izin untuk tidak masuk kantor beberapa hari, pekerjaan tertunda dan terbengkalai. Shalat berjamaah di masjid juga menjadi tergesa-gesa harus cepat pulang. Rasa stress membayangi dalam kehidupan sehari-hari karena partner keseimbangannya yaitu seorang istri sedang terbaring sakit.

Pembuktian Cinta

Ketika istri sakit adalah sarana untuk menguji jiwa sakinah, mawadah dan rahmah pada  suami. Wajar seorang suami mencintai istrinya yang sholehah, cantik dan sehat. Kecintaan suami  akan teruji saat istrinya sedang sakit, apalagi sakit parah dan bertahun-tahun. Kalau kadar cintanya karena fisik maka biasanya akan ditinggalkan istrinya tersebut. Namun jika cintanya karena keimanan maka ujian sakit istri semakin menjadikan dirinya mencintai istrinya dan semakin taqarub kepada Allah dengan sabar dan terus bermujahadah.

Sehingga ada beberapa hikmah yang bisa diambil oleh suami ketika istri sedang sakit:

Hikmah pertama ketika istri sakit adalah menumbuhkan kesadaran yang melahirkan rasa empati yang tinggi terhadap istri. Mungkin selama ini, suami menganggap pekerjaan istri di rumah itu sepele dan ringan. Ternyata setelah suami mengambil alih pekerjaan tersebut terasa rumit dan berat. Pekerjaan sederhana tapi harus terus menerus setiap hari dan tidak boleh berhenti. Seperti memasak, mencuci, mengepel, merapihkan rumah dan merawat anak.

Oleh sebab itu, suami harus memberikan apresiasi dan tidak perlu malu memberikan pujian terhadap tugas istri di rumah. Atas ketaatan dan kesholehahannya maka makan sudah tersedia dengan lengkap di meja makan, baju sudah tersimpan rapih di lemari, rumah bersih dan nyaman, anak-anak terawat dan terurus dengan baik.

Hikmah kedua, mengasahkesabaran. Menemani dan melayani orang sakit dalam waktu yang lama membutuhkan kesabaran luar biasa, apalagi yang sakit itu istri. Mendadak, istri sakit banyak permintaan yang terkadang aneh-aneh dan agak memaksa, sedikit bertambah manja dan rewel. Padahal kondisi suami juga sudah lelah dan perlu istirahat sejenak, sehingga kalau tidak berlatih sabar maka pasti akan ngomel-ngomel dan marah-marah.

Hikmah ketiga, perlunya suami membekali diri dengan ketrampilan-ketrampilan yang selama ini seolah diwajibkan hanya untuk pekerjaan kaum hawa. Contohnya ketrampilan memasak, mencuci, mengasuh anak. Kalau ada pembantu tentu tidak menjadi problem, namun mayoritas di masyarakat tidak memperkerjakan pembantu dirumahnya. Rasulullah sendiri dalam sebuah riwayat terkadang beliau menjahit pakaian dan sandalnya sendiri, membantu istrinya memasak.

Bukanlah hal tabu bagi seorang suami untuk sesekali menjadi koki di rumahnya. Kemudian harus disempatkan untuk bisa membantu mencuci, membersihkan rumah yang sebenarnya pekerjaan-pekerjaan tersebut sudah biasa dilakukan saat sebelum menikah. Namun kebanyakan laki-laki menempatkan istri sebagai pembantu yaitu seperti tukang masak, tukang cuci, tukang bersihkan rumah dan halaman. Padahal menikah itu harus saling memahami, membantu dan bekerja sama sebagai partner dalam rumah tangga.

Hikmah keempat, memberi kesadaran tentang pentingnya kesehatan. Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa nikmat yang terbesar setelah iman dan waktu adalah kesehatan. Sebab saat sakit maka semua berjalan abnormal atau serba darurat dan sulit baik si penderita sakit atau orang-orang dekatnya. Seorang suami tidak hanya menuntut istrinya sehat terus, sementara ketika sakit tidak memberi perhatian yang cukup. Kesehatan istri sangat penting karena ia adalah manajer tunggal di rumah tangga.

Jika ditelusuri secara seksama tentang sebab istri  sakit mungkin salah satu penyebabnya adalah kurang perhatian dari suami. Mungkin selama ini kurang terpenuhi kebutuhan gizinya, kurang refressing, terlalu lelah dengan pekerjaan di rumah sementara suami cuek dan asyik dengan pekerjaannya. Oleh sebab itu menjaga kesehatan dan menghindari penyakit itu jauh lebih baik daripada menyembuhkan karena membutuhkan biaya yang lebih besar.

Wallahu a’lam bis shawwab.

Abdul Ghofar Hadi (Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah Balikpapan)

 

 

 

Card image cap

Belajar Sabar

27 Jul 2017