Menjadi Pakaian yang Baik

02 Agu 2017 oleh Admin

MENJADI PAKAIAN YANG BAIK

Ada ibu muda yang sedang gelisah di sebuah pintu gang, terlihat tidak tenang. Sebentar-sebentar berdiri dan berjalan, membuka Hp-nya dengan wajah agak kusut.

“Assalamu’alaikum?”

“Wa ‘alaikum Salam, “

“Sedang menunggu siapa Dik Inah”

“Lagi menunggu suami yang tidak jelas” jawabnya dengan sedikit ketus

“Kok suami tidak jelas, apa maksudnya?”

“Iya, sudah berulang kali untuk jemput agak cepat, lupa lagi-lupa lagi, banyak alasan, dia itu egois, malas, asyik dengan diri sendiri, maunya menang terus, tidak mau disalahkan, kalau ada maunya baru mau mendekat, ah pokoknya menjengkelkan, pusing”

“Sst. Eh tidak boleh suami dijelek-jelekkan begitu!”

“Ini bukan menjelek-jelekkan, memang seperti itu kenyataannya”

“Iya mungkin itu kenyataan, tapi tidak boleh diobral kejelekan suami, karena itu aib keluarga yang harus dijaga oleh suami dan istri”

“Astaghfirullah, saya khilaf Mbak”

Dalam kehidupan berumah tangga, biasa terjadi kesalah pahaman antara suami dan istri. Secara fisik dan psikis memang berbeda, latar belang pendidikan dan sosial juga berbeda. Sehingga potensi untuk konflik itu ada tapi perbedaan-perbedaan itu juga menjadikan hubungan semakin harmonis karena saling memahami.

Kedekatan suami dan istri melebihi kedekatan sahabat atau saudara kandung. Sehingga keduanya paling tahu dengan kekurangan dan kelebihan pasangannya hingga sangat detail dari masalah-masalah yang kecil. Sebab 24 jam hidup bersama-sama dalam satu rumah, satu kamar dan satu ranjang selama berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun.

Subhanallah, Allah membuat permisalan yang luar biasa terhadap kedudukan suami dan istri yaitu dengan menganalogikan sebagai pakaian. Suami adalah pakaian istri dan istri adalah pakaian suami. Sebuah permisalan yang sederhana dan mudah untuk dipahami oleh setiap orang.

Pakaian merupakan kebutuhan primer yang sangat penting bagi setiap orang. Bagi muslim pakaian merupakan sebuah kewajiban yang harus dikenakan untuk menutup auratnya. Bagi setiap muslim laki-laki diwajibkan menutup auratnya dari pusar sampai lutut. Sedangkan bagi setiap muslimah diwajibkan menutup auratnya yaitu seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

 

Orang-orang beraneka ragam dalam berpakaian. Diantara mereka ada yang berpakaian sesuai syar’i, ada pula yang auratnya masih terbuka sebagaimana zaman jailiyah. Terdapat pula orang yang lebih mengedepankan estetika dalam berpakaian bahkan sampai berlebihan. Dari setiap kategori cara berpakaian seseorang mempunyai kadar fungsi pakaian yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan dan cara berpakaiannya.

 

Pakaian memiliki fungsi menutup aib, perhiasan, benteng dan identitas. Demikian juga dalam konteks berkeluarga maka suami dan istri memiliki fungsi menutup aib, menjadi perhiasan, benteng dan identias bagi pasangannya.

Pertama sebagai identitas.

 

Kepribadian seseorang dapat dilihat dari cara berpakaiannya. Eksistensi keberadaannya pula dapat dilihat dari cara berpakaiannya. Pakaian juga dapat membedakan antara orang yang muslim dengan non-muslim.

 

Demikian juga suami dan istri, keduanya menjadi identitas bagi pasangannya. Keberadaan suami adalah cerminan dari seorang istri dan sebaliknya istri adalah gambaran seorang suami. Sehingga ketika ada seorang suami berpenampilan kumuh dan jorok, berarti istrinya pemalas dan kurang menjaga kebersihan. Kalau istrinya tidak terawat dan sakit-sakitan maka suaminya berarti kurang perhatian kepada istrinya.

 

Maka istri dalam bahasa jawa disebut garwo artinya sigare nyowo atau separo nyawa. Sehingga suami dan istri itu sebenarnya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

 

Kedua sebagai pelindung.

Salah satu fungsi dari pakaian adalah menutup aurat. kata aurat sendiri berasal dari kata sa'a – yasu'u yang berarti buruk yang mempunyai arti onar, aib, atau tercela. Mengenai makna aurat tersebut bukan berarti anggota tubuh yang termasuk aurat itu buruk karena semua anggota tubuh itu baik dan bermanfaat. Yang dimaksud buruk disini adalah apabila aurat itu terlihat. Sehingga aurat harus ditutup.

Seorang istri atau istri harus mampu menjaga kehormatan pasangannya, menutupi aibnya, merahasiakan kelemahannya untuk menjaga harga diri keluarga. Cukuplah keduanya yang mengetahui kekurangan apa pun yang ada pada pasangannya.

 

Semua suami atau istri pasti punya aib atau kekurangan dan yang paling mengetahui aib adalah suami atau istri. Sehingga siapa saja tidak senang disebut-sebut kekurangannya meskipun itu kenyataan, apalagi oleh pasangannya sendiri.

 

Apa hikmahnya? Ada peribahasa mengatakan “Bagai menepuk air di dulang, menciprat ke wajah pula”. Menjelek-jelekkan suami atau istri di hadapan orang lain, akibatnya akan mengenai diri sendiri pula. Ia sendiri yang akan merasakan malunya, berarti dia tidak bisa mendidik istrinya atau istri tidak mampu mendampingi suaminya. Menghinakan suami atau istri di hadapan orang lain, maka diri sendirilah yang akan dipandang hina di hadapan orang-orang itu.

 

Ketiga pakaian sebagai perhiasan.

 

Perhiasan adalah sesuatu yang indah dan berharga. Dengan memiliki atau sekedar memandangnyasangat membahagiakan atau qurratu a’yun. Suami adalah perhiasan bagi istrinya dan istri adalah perhiasan bagi suami. Suami indah bukan sekedar karena fisiknya tapi akhlaqnya menyenangkanistri dan bukan sekedar istri yang cantik tapi budi pekertinya yang mententramkan suaminya

 

Ukuran kecantikan dan ketampanan bukan wajah dan kulitnya, sebab banyak juga pasangan yang ideal secara fisik yaitu cantik dan tampan tapi berujung kepada perceraian karena tidak bisa menjadi perhiasan bagi pasangannya.

 

Kehidupan suami-istri harus menjadi pemandangan indah buat orang-orang sekitarnya, mampu menjadi motivasi untuk membangun keluarga sakinah yang penuh mawaddah dan rahmah. Tidak juga dengan mendemonstrasikan keromantisan di depan umum karena juga akan mengundang hasad orang lain. Perhiasan itu senantiasa tersimpan dan terawat dengan baik, tidak diobral atau dipamerkan sembarangan.

 

Keempat sebagai benteng

 

Seorang suami dan istri harus menjadi benteng untuk pasangannya, sekecil apa pun ancaman yang datang dari luar yang akan membahayakan pasangannya, maka suami atau istri harus menjadi pelindungnya. Tidak boleh ada seorang pun yang mengganggu pasangannya, entah secara fisik, gosip, isu atau yang lain. Suami dan istri harus saling menjaga, baik lahir maupun batin.

Pakaian ada untuk melindungi dari segala jenis cuaca, selalu melekat dengan pemiliknya dimana pun berada. Begitupun dengan pasangan suami dan istri harus saling melindungi dari bahaya, bersama menyelesaian permasalahan hidup, suka dan duka, selalu hadir menemani saat suka maupun duka, menimbulkan rasa harmonis, aman dalam rumah tangga, dan bukan sebaliknya.

Pakaian dapat menghangatkan tubuh manusia, maka suami da istri harus bisa memberi kehangatan pada pasangannya dan menjauhkan dari sifat curiga dan cuek.

 

Banyaknya angka perceraian, salah satu sebab adalah robeknya pakaian sehingga tidak berfungsi melindungi, menghiasi, menjadi benteng dan identitas bagi pasangannya.

Abdul Ghofar Hadi ( Kepala Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatulah Balikpapan)

 

 

 

 

Card image cap

Ketika Istri Sakit

31 Jul 2017

Kerja bakti dan Jihad

02 Okt 2017

Card image cap