Pengasuh antara Harapan dan Tantangan

03 Okt 2017 oleh Admin

Pengasuh Antara Harapan dan Tantangan

Hingga hari ini pendidikan ala pesantren masih menjadi alternatif terbaik dalam mengantar peserta didik menjadi lebih baik. Terbukti dari dulu hingga sekarang, lulusan pesantren bisa lebih mandiri, dewasa, matang dan mumpuni keilmuannya.

Ciri pertama dan utama dari pendidikan ala pesantren adalah adanya asrama atau pemondokan santrinya. Kalau ada pesantren tanpa asrama maka  bukan pesantren namanya tapi cukup madrasah atau sekolah biasa saja.

Pendidikan-pendidikan ikatan dinas baik sipil maupun militer, pendidikan modern juga mengadopsi pola pesantren yaitu diasramakan dan diawasi sepanjang waktu. Tidak cukup full day, yang itupun sebagian pihak kontra dengan berdalih ini dan itu.

Kembali pada masalah pendidikan pesantren itu mutlak berasrama atau boarding school. Unsur pokok dalam asrama adalah adanya pengasuh. Jika ada asrama tanpa pengasuh maka itu kos-kosan, rumah kontrakan atau mess penginapan.

Maka pengasuh memegang peran penting dalam pendidikan pesantren. Karena mereka yang berinteraksi langsung dengan santri setiap harinya. Dalam berbagai kegiatan informal dan non formal.

Pembentukan karakter, mental dan spiritual banyak ditentukan oleh peran penting pengasuh. Pendidikan formal tetap penting tapi aktualisasi keilmuannya adalah di asrama bersama pengasuh.

Pengasuh juga bisa dianggap sebagai orang tua santri di pesantren. Atau yang mewakili para orang tua yang menitipkan pendidikan putra-putri nya di pesantren. Meskipun kebanyakan pengasuh belum pengalaman punya anak sendiri karena masih bujang.

Jam kerja pengasuh juga lebih panjang dan melelahkan. Sifatnya nonformal, yaitu saat mau tidur, makan, mandi, kerja bakti dan mengontrol pelaksanaan ibadah wajib dan Sunnah.

Semegah apapun asrama, selengkap apapun fasilitas asrama, seketat apapun aturan asrama, secanggih apapun peralatan dalam asrama tapi jika pengasuh nya tidak mumpuni maka asrama itu menjadi disfungsional.

Pesantren-pesantren tradisional dulu yang melahirkan ulama-ulama atau awal-awal berdirinya pesantren Hidayatullah. Asramanya sangat sederhana, bahkan gubuk gubuk yang disuruh membuat sendiri. Tapi karena kepengasuhannya yang hebat maka lahirlah ulama-ulama dan santri yang militan.

Maka di beberapa pesantren, istilah pengasuh adalah jajaran kyai dan para ustadznya. Sebagian memaknai pengasuh adalah kakak kelas atau pengabdian yang menemani di kamar kamar.

Sedemikian pentingnya keberadaan pengasuh dalam pendidikan pesantren. Tapi hingga hari ini belum ada perguruan tinggi yang membuka jurusan kepengasuhan. Sehingga lebih sulit mencari Pengasuh dibandingkan mencari guru.

Kemudian pengasuh juga belum dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Dalam pilihan-pilihan pekerjaan saat mengisi formulir apa saja, tidak ada pilihan pekerjaan pengasuh.

Secara status sosial memang menjadi pengasuh tidak keren. Sedikit orang yang bangga atau percaya diri ketika ditanya, apa pekerjaan nya?  " Pengasuh" padahal Pengasuh itu mulia.

Sebagian pesantren, menempatkan pengasuh hanya sebagai pelengkap asrama. Sehingga yang menjadi pengasuh asal asalan, yang penting mau, yang tidak bisa mengajar (guru) atau yang sudah tidak bisa dipakai di mana mana, berganti setiap tahun, gaji apa adanya, tanpa ada tunjangan insentif apalagi sertifikasi.

Jika ada santri bermasalah maka semua mata tertuju kepada pengasuh, telunjuk tangan mengarah kepada pengasuh, pikiran langsung berprasangka kepada pengasuh.

Sebaliknya jika ada santri yang berprestasi Sholeh, taat dan disiplin maka pengasuh seolah tidak ada atau dilupakan.

Padahal pengasuh itu luar biasa peran dan jasanya. Guru guru atau manajemen sekolah bisa pusing jika asrama tidak ada pemgasuh yang kontrol. Para orang tua juga khawatir jika pengasuh tidak kapabel.

Maka bersyukurlah dan semangat atas diselenggarakan nya pelatihan Pengasuh pendidikan Hidayatullah se-Indonesia di Samarinda, 15-17 September 2017.

Ini wujud keperpihakan kepada pengasuh dan usaha untuk meningkatkan kualitas pengasuh yang berujung kepada pendidikan Hidayatullah secara nasional.

Menjadi pengasuh adalah keterpanggilan dan harus ada pembekalan skill dan pengetahuan dalam pengelolaan manajemen asrama dan problematika santri.

Penulis orang yang pernah diasuh dan mengasuh. Di kaki Gunung Tembak Balikpapan

Card image cap

Kerja bakti dan Jihad

02 Okt 2017