Re-orintasi Pendidikan

06 Jun 2017 oleh Siswa

Lpphbalikpapan.com Sudah menjadi keprihatinan bersama terutama bagi insan pendidikan karena fenomena yang terjadi pada sebagian besar generasi anak-anak, remaja dan pemuda yang kehilangan karakter. Kejadian negatif seperti tawuran, hilangnya etika kesopanan, kejahatan biologis, narkoba dan minuman keras seolah sudah akrab dan menyatu pada dunia mereka. Peristiwa peristiwa buruk sebagaimana di atas semua hampir terjadi merata disetiap jenjang pendidikan dan setiap daerah. Orientasi utama pelaku pendidikan dan peserta didik/siswa/mahasiswa adalah ijazah dan angka-angka yang menunjukkan perolehan nilai didalamnya. Mereka sudah sangat prakmatis dalam belajar atau sekolah untuk bisa cepat mendapatkan pekerjaan dan penghasilan. Para pelaku pendidikan sudah kehilangan peran utama, sebagian besar pelaku pendidikan bersikap apatis dan tidak mau tahu tentang tugas wajib yang diembannya. Mereka lebih cenderung memaknai bahwa profesi guru/dosen sebagai ladang pekerjaan, sehingga sering disibukkan dengan tuntutan kenaikan gaji atau kesejahteraan, insentif dan sertifikasi menjadi nyanyianya setiap hari. Menjadi guru atau dosen bukan lagi karena panggilan keimanan atau amanah dari Allah. Padahal pemerintah membuat peraturan UU No 20 Tahun 2003 Bab XI Pasal 40 bahwa kewajiban utama pelaku pendidikan (baca:pendidik dan tenaga kependidikan) adalah: a. menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; b. mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan c. memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dunia saat ini sedang dan telah lama terkooptasi dengan aliran materialisme. Sehingga semua aspek kehidupan ini selalu diukur dengan materi, termasuk di dunia pendidikan juga tergerus oleh materialisme. Ukuran keberhasilan atau kesuksesan diukur dengan pencapaian materi. Sekolah yang dianggap baik adalah ketika bisa melahirkan tenaga kerja yang siap pakai atau bisa langsung terserap ke dunia kerja. Guru dan Orang tua Paling Bahagia Dalam sebuah seminar pendidikan dengan peserta para guru. Pemateri bertanya, “Kapan seorang guru merasa sangat bahagia?” Jawaban audiens cukup beragama. Sebagian menjawab dengan normatif, “Guru merasa sangat bahagia ketika melihat murid-muridnya sukses” Sebagian menjawab dengan realistis, “Guru bahagia ketika tanggal muda saat gajian, ditambah insentif dan sertifikasi cair. Apalagi saat menjelang hari raya ada THR atau gaji ke-13 atau kiriman parsel dari murid” Mungkin kita juga bisa mengatakan”Guru bahagia ketika murid-muridnya berhasil mengerjakan soal-soal ujian dengan tuntas di atas nilai KKM-nya” Memang betul, itu semua membuat para guru bahagia. Tapi sebenarnya seorang guru akan merasakan kebahagiaan sejati yaitu ketika meninggal dunia, pahala kebaikan dari ilmu yang diajarkan masih mengalir karena murid-muridnya mengamalkan ajaran kebaikannya. Sebagaimana hadist Rasulullah, “Jika seseorang mati maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa mendoakannya” Demikian juga orang tua yang paling bahagia adalah yang ketika meninggal dunia terus mendapatkan aliran pahala kebaikan dari anak-anaknya yang sholeh dan terus mendoakannya. Inilah kebahagiaan yang sejati dan abadi. Pendidikan Orientasi Dunia Akherat Oleh sebab itu, orientasi pendidikan harus berdimensi dunia akherat. Para pendidik atau guru dan dosen harus meniatkan pengajarannya agar para muridnya bisa sukses dunia akherat. Tidak terjebak dengan kepentingan sesaat tapi membuat niat menjadi sesat. Semangat dan kualitas pendidik yang berorientasi akherat harus lebih baik karena imbalannya bukan sekedar materi tapi lebih dari sekedar materi yaitu kebahagiaan dunia akherat yang nilai tidak terbilang oleh nominal materi. Bukan berarti pendidik yang berorientasi keimanan tidak memerlukan gaji, insentif, tunjangan atau sertifikasi. Tapi itu semua bukan menjadi tujuan utama, bukan menjadi kendala jika semua itu tidak ada untuk terus mengajar para muridnya menjadi sukses dunia akherat. Motivasi keimanan dengan janji kebahagiaan dunia akherat seharusnya menjadi motivasi lebih untuk mengajar dan mendidik murid-muridya menjadi lebih baik. Para orang tua juga harus turut mengarahkan orientasi pendidikan putra-putrinya sesuai dengan amanah Allah yang telah mengkaruniakan dan mempercayakan mereka dengan putra-putrinya. Anak-anak akan menjadi fitnah dan masalah besar bagi orang tuanya di dunia dan akherat ketika salah dalam meng-orientasikan pendidikannya. Betapa hancur perasaan orang tua yang melihat anak yang saat kecil lucu dan menggemaskan ternyata setelah dewasa mempermalukannya dengan terlibat kriminalitas bahkan melawan perintah orang tua. Ini karena orientasi pendidikan yang salah arah atau terjebak dengan kepentingan prakmatis. Orang tualah yang paling bertanggung jawab dan berpengaruh terhadap orientasi pendidikan putra-putrinya. Orang tua juga yang akan paling merasakan dampak manfaat atau efek negatif dan pendidikan putra-putrinya. Jika sholeh-sholeh pasti membahagiakan dan jika salah-salah pasti menyengsarakan dunia akherat. (Di muat di Kaltim Post, Jumat 11 Juli 2015)