Berasrama Solusi Pendidikan

06 Jun 2017 oleh Siswa

lpphbalikpapan.com ~~ Era globalisasi memberikan dampak positif sekaligus negatif bagi dunia pendidikan. Salah satu dampak negatif dari arus globalisasi adalah terkikisnya nilai-nilai moral bangsa karena pengaruh budaya asing yang kadang kurang sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Tehnologi yang menjadi bawaan globalisasi juga bermata dua. Satu sisi adalah konskwensi sebuah kemajuan yang harus ada tapi di lain pihak menjadikan generasi muda terlena dan tergerus moralitasnya. Hampir 99% faktor penyebab dan perantara dari tindakan asusila yang terjadi saat ini adalah tehnologi, terutama android dengan fasilitas internetnya. Kasus-kasus vedio porno, aborsi, pergaulan bebas yang lagi semarak akhir-akhir ini adalah salah satu bukti kongkrit terhadap krisis moralitas. Berita yang termuat di media adalah ibarat gunung es artinya lebih banyak kasus yang tidak terekspos oleh pemburu berita. Kemudian yang tragis, kurbannya dan pelakunya adalah anak-anak sekolah. Artinya mereka yang sedang belajar dan dididik oleh lembaga pendidikan dan memiliki orang tua. Bukan anak jalanan yang tidak mengenal baca tulis, bukan juga anak terlantar yang miskin, tidak memiliki bapak, ibu, keluarga dan rumah. Bagaimana peran sekolah dan orang tua dalam membentuk moralitasnya? Pertanyaan ini bukan untuk mencari yang salah. Karena mereka tidak mau menjadi yang tertuduh terhadap permasalahan rendahnya moralitas. Namun perkembangan zaman dengan kecanggihan tehnologi merubah lingkungan masyarakat menjadi lemah kontrol sosialnya. Sehingga sekolah dan rumah juga terjadi pelemahan dalam pengkondisian dan pembentukan morlaitas. Seringkali yang terjadi banyak anak terlihat manis saat di sekolah dan menjadi anak mama di rumah, tapi ternyata menyimpan masalah dengan terlibat narkoba, hamil di luar nikah. Pengawasan guru hanya saat di sekolah, orang tua mengawasi hanya saat di rumah. Namun ketika anak pada saat di luar sekolah dan di luar rumah yang menjadi celah bagi anak untuk berbuat di luar kontrol. Guru sudah berlepas tangan, sementara orang tua sudah terlanjur mempercayakan semua aspek pendidikan anaknya kepada sekolah. Masyarakat juga sudah lemah kontrol sosial dan kepeduliannya. Meskipun sudah dirancang adanya kurikulum pendidikan budi pekerti, pendidikan berkarakter, pendidikan moral. Namun ketika itu hanya sebuah pelajaran yang tidak teraplikasikan, terbimbing dan terawasi dalam kehidupan sehari-hari maka tidak banyak berpengaruh terhadap pembentukan moral. Pesantren dengan pendidikan berasrama yang dirancang oleh para ulama terbukti sejak dulu melahirkan orang-orang besar yang mandiri dan terjaga moralitasnya. Ada dimensi integralitas antara pendidikan intelektual, moral, mental dan spritual. Sekolah berasrama atau boarding school dengan gaya pesantren bisa menjadi salah satu solusi untuk meretas masalah moralitas anak didik. Meskipun belum sempurna tapi ada ikhtiar untuk menata kehidupan di asrama pendidikan serupa dengan kehidupan dalam lingkungan keluarga namun lebih terstruktur dan lingkungan masyarakat yang terkontrol. Di asrama ada bapak/ibu asrama, pengasuh, kakak tingkatan sebagai pengganti orang tua dan saudara. Ada peraturan-peraturan secara tertulis maupun tidak tertulis dengan pengawasan 24 jam, dan seperangkat fasilitas yang menyerupai fasilitas dalam keluarga dan masyarakat seperti masjid, lapangan dan media-media aktualisasi yang lain. Karena merupakan lingkungan yang memyerupai lingkungan keluarga namun lebih formal, maka kehidupan di asrama sekolah dapat dikondisikan untuk membentuk sikap dan moralitas penghuninya, dalam hal ini adalah anak-anak didiknya. Wallahu a’lam bish shawwab.