Filosofis Tisu

06 Jun 2017 oleh Admin

Salah satu yang unik dan menarik di Madinah adalah tersedianya tisu di hampir semua masjid di kota Madinah dan Makkah. Di Haramain pun banyak tapi saat saat tertentu seperti ketika buka puasa. Kalau banyak tisu di rumah, wc atau di rumah makan itu wajar atau sudah sering lihat di indonesia dan itu tempat tempat yg perlu banyak tisu. Tapi ini tisu di masjid. Tisu banyak diletakkan bagian shaf paling depan. Kemungkinan tujuannya menfasilitasi jamaah yang sedang flue, agar mudah membuang ingus atau tidak sembarangan. Ide yang menarik untuk menjaga kebersihan anggota badan atau pakaian. Sebab shalat, ibadah yang dipersyaratkan adanya kebersihan. Madinah jika sedang musim dingin, banyak yg terkena influensa. Sehingga ide sederhana dengan adanya tisu di masjid menjadi solusi. Di masjid masjid yang ramai jamaahnya, memerlukan banyak tisu karena cepat habis. ini bukan bicara peluang bisnis tapi menginformasikan betapa penting atau banyaknya kebutuhan tisu. Kemudian mengamati tisu saat masih dalam tempatnya, ketika diambil oleh para jamaah secara bergantian, yg bagian atas maka yg dibawahnya langsung muncul, di ambil lagi dan muncul dibawahnya dan seterusnya. Berapapun diambil dan secepat apapun diambil maka sdh siap dibawahnya. Sebenarnya kejadian itu biasa saja, tisu di indonesia juga seperti itu. Tapi pengamatan itu menjadi mendalam saat mencoba mengaitkan dengan proses regenerasi, umat Islam harusnya menyiapkan calon calon ulama. sehingga ketika satu ulama dipanggil Allah maka sdh siap penggantinya. Saat ini sering terjadi, ada pesantren tutup karena kyai nya meninggal dunia, majlis taklim berhenti karena ustadznya wafat. Pendidikan islam mengalami kemunduran karena syekhnya meninggal. dsb Hari ini , regenerasi ulama lambat untuk tidak dikatakan mandek. Maka filosofi tisu bisa ditiru untuk menyiapkan generasi calon ulama. dengan manajemen ala tisu. Akhir jaman ini sdh tidak akan turun nabi sebagai pembawa risalah karena Muhamad adalah Nabi terakhir. Tapi masih ada ulama sebagai pewaris nabi yang mencerahkan untuk keselamatan umat dunia akherat. Menyiapkan generasi ulama sama dengan menunda datangnya hari kiamat. karena salah satu tanda datangya hari kiamat adalah tidak adanya ulama. Ulama tidak lahir bin salabin tapi harus dicetak atau dipersiapkan. Kepedulian pemerintah Arab Saudi luar biasa dengan mendirikan Universitas Islam Madinah (UIM) untuk melahirkan calon calon ulama. Dengan jumlah mahasiswa ribuan dan 165 negara dari benua eropa afrika, asia, amerika, australia. semua gratis, fasilitas full, uang saku setiap bulan, tiket pulang pergi ke negaranya masing masing setiap tahun. UIM harus memposisikan dan diposisikan sebagai pabrik calon calon ulama. Para mahasiswa UIM sadar atau tidak, umat sedang menunggu kehadiran dengan segudang ilmu dan spiritnya kembali di tengah tengah masyarakat. Jika UIM dan lembaga pendidikan Islam, pesantren, perguruan tinggi islam semisalnya masih eksis maka insyaallah umat islam tidak perlu khawatir kekurangan ulama. sebagaimana tidak kehabisan tisu di musim dingin. wallahu a’lam bis shawwab.