Semangat Berbagi

06 Jun 2017 oleh Admin

Catatan dari Madinah Saat selesai dari WC di masjid Nabawi bertemu dengan petugas berseragam dan berwajah indo. Penulis tidak sia-siakan untuk bertanya dan ngobrol. “Sudah berapa tahun di sini Pak?” “Baru empat tahun” Katanya “empat tahun, kok baru?’ “Iya, dibandingkan dengan teman yang lain, ada yang delapan dan puluhan tahun” “Maaf sebelumnya, berapa gaji di sini?” “ Sedikit saja yang pokok yaitu 800 real” Jawabnya enteng “Kok yang pokok, memang ada yang tidak pokok?” “Iya seperti ini” Sambil dia mengeluarkan uang-uang kertas dari saku celana dan bajunya. “Oh, banyak sekali Pak” “Kalau lagi rezeki, satu bulan bisa dapat seribu real lebih, ” “Kok bisa Pak ya? “Iya karena di masjid Nabawi tidak ada kotak amal, sehingga jamaah yang ingin berinfak maka berbagi kepada para pekerja masjid Nabawi ini” “Kenapa tidak ada kotak amal pak ya?” “Mungkin kalau ada kotak amal setiap hari penuh dan setiap bulan bisa milyaran. Tapi pemerintah mungkin sudah cukup uangnya untuk membangun dan menjaga haramain ini. Semangat berbagi di Haramain memang luar biasa. Ada yang berbagi kurma roti, minyak parfum kalau di dalam masjid. Menurut teman, saat bulan Ramadhan semua orang berebut jamaah untuk bisa berbuka dengannya. Bukan terbalik orang berebut mendapatkan buka puasa atau zakat. Setelah shalat Ashar dan setelah Isya, di dekat pintu Baabussalam, rutin ada muhsinin yang berbagi minuman teh hangat dan roti. Motivasi mereka tentu akherat atau surga, yakin bahwa orang yang melayani haji umroh akan mendapatkan pahala berlipat. Sebab secara hitungan materi rugi, tidak ada untungnya. Mengapa orang umroh dan haji harus berbelanja sebelum pulang? karena mau berbagi juga, disamping berbagi cerita tentunya. Ada juga jamaah yang semangat menikmati pembagian, sampai menimbun untuk dibawa pulang, mungkin karena mereka orang yang berhak, datang ke haramain dengan modal pas-pasan. Kesimpulannya, semangat berbagi di masjid Nabawi harus menjadi inspirasi dan diaplikasikan di negeri. Berat mungkin karena syetan pasti tidak rela dan menghembuskan rasa khawatir untuk bangkrut atau melarat. Semoga yang menulis dan membaca risalah ini tumbuh karakter suka berbagi, sebagai aktualisasi keyakinan terhadap janji Allah kepada orang orang yang suka berinfak. Amin Ya Rabbal Alamin